Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2016

Mati

Ingin rasanya aku menjerit, menjerit sekeras-kerasnya. Ingin rasanya aku menangis, menangis sejadi-jadinya Namun, apalah daya, suaraku telah hilang ditelan sunyi Air mataku telah kering. Tak ada yang bisa kulalukan, aku hanya diam Terpaku sendiri. Hampa! Aku merasa hampa! Tak ada lagi warna dalam hidupku. Tak ada lagi cahaya dalam hidupku Tak ada lagi suara. Aku tersesat, dalam lembah kenistaan. Dan aku jatuh tersungkur. Tak pernah terbangun lagi. Hilang sudah, tak ada yang tersisa. Hanya jasad, jasad yang menjadi makanan ngengat. Balikpapan, 12 September 2016

Puisi Ini Untukmu

Siapakah daku? berani menatap bola mata sejernih embun membuat angan terbang tak berarah menembus batas-batas cakrawala. Asa, perlahan muncul. Mengharap, engkau memalingkan wajah, menatapku. Entah kapan, asa itu tak pernah padam. Semakin membara. Harapku, biarlah bara itu abadi. Jangan kau siram air es! Biar aku berilusi, biar aku terus merajut benang-benang harapan Harapan akan kasihmu. Harapan akan tatapan lembutmu. Dan, harapan akan dirimu. Balikpapan, 25 September 2016