Tanah ini membayar mahal untuk menghirup udara kemerdekaan Tanah ini berdarah-darah, meradang, dan terluka Tanah ini bersusah payah menelan jasad-jasad tak berdosa Tanah ini muak menyaksikan kekejaman tak berperi Dan tanah ini terus mengirimkan untaia tanya ke langit-Mu “Kapankah derita ini berakhir? Kapankah tanah ini mencecap kemerdekaan?” Dan langit-Mu berteriak, laut-Mu bergolak Keputusanmu telah ditetapkan, tanah ini MERDEKA Merdeka, Tanah kita merdeka Namun pertumpahan darah seakan tiada terhenti Tangan-tangan licik mengusik Menggugat kemerdekaan kita ...
Coretan-coretan seorang anak desa yang hijrah ke Ibu Kota.