Skip to main content

Curahan Hati 1

            Dalam postingan kali ini, saya akan mengeluarkan beberapa hal yang berkecamuk di dalam otak saya. Hal pertama yang sering muncul di benak saya adalah mengapa ada orang yang pelit, saya rasa bukan pelit sebenarnya. Hanya saja mereka enggan untuk berbagi. Berbagi apa? Contoh kecilnya berbagi ilmu pengetahuan. Sebagai seorang pelajar, saya sering menemui orang- orang yang enggan untuk berbagi ilmu pengetahuan dengan saya. Jika saya tanyakan beberapa hal yang saya kurang tahu, mereka seperti enggan untuk menjawab. Padahal saya tahu bahwa mereka sudah tahu tentang hal yang saya tanyakan. Bukan hanya enggan menjawab. Terkadang pertanyaan saya seperti membentur tembok mati alias tanpa menemui jawaban. Mereka hanya menjawab “Tidak tahu.”
            Menurut saya, hal seperti ini sebaiknya dihilangkan dari pribadi masing-masing. Sehingga kita bisa saling membantu dalam ilmu pengetahuan. Bukankah dalam agama sudah diperintahkan untuk saling tolong-menolong dalam hal kebaikan? Jadi apa susahnya membantu teman yang belum tahu tentang materi pelajaran.
            Saya sendiri menyadari, terkadang saya juga masih enggan untuk berbagi dengan teman-teman saya. Tapi, saya berusaha untuk menghilangkan rasa enggan tersebut dari hati. Dan saya berusaha menjawab setahu saya jika ada teman atau siapa saja yang bertanya kepada saya. J
            Hal kedua, saya pernah merasa sakit hati karena suatu hal kecil. Sebenarnya saya tidak perlu sakit hati, tapi saya juga manusia biasa yang punya hati sehingga bisa merasakan sakit. Sebenarnya ini hanyalah hal sepele. Kita dididik untuk menjadi orang yang jujur, jujur dalam segala hal termasuk ketika ulangan harian. Maklum saya masih pelajar jadi yang saya tulis tentang ulangan harian saja, J. Suatu ketika, guru mata pelajaran saya mengadakan ulangan harian. Saya sudah berusaha belajar semaksimal mungkin dan saya niatkan dalam hati saya tidak akan mencontek. Saya duduk dengan salah seorang teman yang termasuk golongan pandai di kelas saya. Teman tersebut mengerjakan soal ulangan dengan serius. Dia menutupi lembar jawabannya dengan rapat sekali. Seolah-olah saya ini mau mencontoh jawabannya. Padahal tak ada sedikitpun niat saya untuk mencontoh jawabannya. Perbuatan dia itu sedikit membuat saya tersinggung dan dalam hati saya berkata, “Aku dididik untuk jujur, jadi meskipun lembar jawabanmu kau buka lebarpun aku tidak akan menyalinnya di lembar jawabanku. Kenapa harus ditutupi? Kuakui kamu memang pintar, Kawan. Tapi jangan bersikap seperti itu dengan temanmu yang kurang pandai ini?” Dan apakah kalian tahu? Setelah nilai ulangan diketahui, ternyata teman saya tersebut tidak lulus sedangkan saya meskipun dengan nilai yang pas-pasan berhasil lulus ulangan.
            Tetapi, saya sadar bahwa setiap orang memiliki karakter masing-masing. Saya mencoba untuk memahami, mungkin teman saya tersebut memang memiliki karakter protektif terhadap apa yang ia miliki. Ia tidak ingin ada seorangpun yang mencontek hasil usaha kerasnya. Jadi, ia berusaha untuk melindungi lembar jawabannya semaksimal mungkin. Kepada teman saya tersebut saya ucapkan terima kasih sudah menyadarkan saya tentang karakter manusia yang berbeda-beda dan saya minta maaf atas ketidakpahaman saya tentang karaktermu. Semoga kamu memaafkan saya.
            Saya rasa pada kesempatan ini cukup sekian yang dapat saya tuliskan. Mungkin pada lain kesempatan akan saya lanjutkan karena masih banyak hal yang menganggu pikiran saya. Untuk teman-teman yang sudah membaca catatan kecil ini saya ucapkan terima kasih dan semoga teman-teman bersedia berkomentar tentang tulisan saya demi perbaikan untuk tulisan saya yang selanjutnya. J


Comments

Popular posts from this blog

Tuladha Serat Pribadi | CONTOH SURAT PRIBADI BAHASA JAWA

Sumber gambar :  Pinterest Berikut ini adalah contoh surat pribadi dalam bahasa Jawa. tentu saja tulisan ini belum sempurna, saya tunggu kritik dan sarannya.  Kulon Progo, 04 Mei 2015 Bapak saha Ibu Wonteng ing Solo             Sembah sungkem pangabekti,             Lumantar serat punika, kula ngaturi uninga bilih kawontenan kula ing mriki tansah ginanjar wilujeng nir ing sambikala. Menggah panyuwunan kula dhumateng Gusti Allah SWT, mugi-mugi kawontenanipun Bapak saha Ibu ugi mekaten. Amin             Bapak saha Ibu ingkang kula bekteni, lumantar serat punika kula badhe caos kabar bilih kala wingi kula Juara II Lomba Cerkak se-Kabupaten Kulon Progo. Saha Insya Allah kula badhe wangsul dateng Solo benjang wulan Desember. Nyuwun pangestunipun mugi-mugi sedaya dipun paringi kalancaran.   ...

Hujan Abadi

Hujan! Aku benci hujan! Teramat benci. Saat arakan awan hitam perlahan datang, hatiku mulai menyumpah. Serapah tak pantas kukeluarkan meski hanya dalam hati. Dan tak berselang lama, langit menumpahkan semuanya ke bumi. Aku? Semakin menyumpah. Saat ini, aku tengah terjebak hujan. Membuat perjalananku terhambat. Aku tertahan di sebuah emperan toko. "Kenapa kau begitu benci dengan hujan?" kudengar seseorang berkata. Aku menoleh, kau bertanya padaku , batinku. Dia mengangguk. "Ya, aku bertanya padamu. Dari tadi kudengar kau menggerutu. Kau tahu? Itu sangat mengangguku," ujar laki-laki berwajah tirus itu. Aku jadi heran, bagaimana dia bisa mendengar apa yang kuucapkan dalam hati. Aku menghela napas, "orang lain tidak ada yang terganggu, kau saja yang berlebihan. Lagi pula aku mengucapkannya dalam hati. Salah siapa mencuri dengar kata hati orang lain." Aku berucap dengan ketus. Kulihat orang itu memcoba bersabar. "Suatu saat kau akan membutuhkanku! Ing...

Belajar Cepat dan Menyenangkan

Kegiatan belajar sering dianggap membosankan bagi sebagian orang. Lalu, bagaimana caranya agar belajar menjadi menyenangkan dan mudah untuk menyerap materi yang dipelajari? Asalkan kita tahu caranya, pasti belajar menjadi mudah dan menyenangkan. Mari kita pelajari caranya! Rapikan Penampilan. Kerapian penampilan dan tempat belajar sangatlah penting. Karena penampilan dan tempat yang rapi akan membuat belajar terasa nyaman. Bayangkan saja kalau kita harus belajar di tempat yang berantakan. Pasti otak jadi ikut berantakan dan membuat kita cepat merasa bosan. Salah seorang Bapak Proklamator kita, Mohammad Hatta selalu berpenampilan rapi ketika sedang membaca buku. Bahkan beliau selalu mengenakan sepatu, jas dan lengkap dengan dasinya. Beliau berkata, “Membaca buku sama halnya dengan berhadapan langsung dengan sang profesor.” Nah, bagamana? Tentu lebih asyikkan kalau belajar dengan penampilan yang rapi. Musik. Musik sangat membantu dalam belajar. Mengapa demikian? karena musik...