Skip to main content

Posts

Showing posts from 2016

Mati

Ingin rasanya aku menjerit, menjerit sekeras-kerasnya. Ingin rasanya aku menangis, menangis sejadi-jadinya Namun, apalah daya, suaraku telah hilang ditelan sunyi Air mataku telah kering. Tak ada yang bisa kulalukan, aku hanya diam Terpaku sendiri. Hampa! Aku merasa hampa! Tak ada lagi warna dalam hidupku. Tak ada lagi cahaya dalam hidupku Tak ada lagi suara. Aku tersesat, dalam lembah kenistaan. Dan aku jatuh tersungkur. Tak pernah terbangun lagi. Hilang sudah, tak ada yang tersisa. Hanya jasad, jasad yang menjadi makanan ngengat. Balikpapan, 12 September 2016

Puisi Ini Untukmu

Siapakah daku? berani menatap bola mata sejernih embun membuat angan terbang tak berarah menembus batas-batas cakrawala. Asa, perlahan muncul. Mengharap, engkau memalingkan wajah, menatapku. Entah kapan, asa itu tak pernah padam. Semakin membara. Harapku, biarlah bara itu abadi. Jangan kau siram air es! Biar aku berilusi, biar aku terus merajut benang-benang harapan Harapan akan kasihmu. Harapan akan tatapan lembutmu. Dan, harapan akan dirimu. Balikpapan, 25 September 2016

Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat

Nama : Smartphone Visi     : Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat Misi    : Melalaikan umat manusia Namaku Smartphone. Seperti yang kalian ketahui, di era modern ini hampir semua orang memilikiku. Tak pandang bulu. Tak pandang usia. Kemanapun mereka pergi, tak lupa aku selalu digenggamannya. Aku seolah menjadi segala-galanya. Bagaimana tidak? Aku dapat melakukan banyak hal. Meringankan pekerjaan mereka. Memang aku diciptakan untuk memudahkan urusan manusia. Memperlancar komunikasi dengan keluarga, teman dan kerabat. Namun, mereka tak pernah menyadari akan misiku. Aku punya misi khusus dibalik semua ini. Berkat keberadaanku, manusia mulai berubah. Saat berkumpul, mereka akan cenderung sibuk dengan aku. Mereka acuh terhadap sekeliling. Tak bertegur sapa dengan orang lain. Lihatlah di sekolah-sekolah, dimana siswanya sibuk denganku. Abai terhadap teman. Curi-curi waktu untuk mengecek akun media sosial di sela-sela pelajaran. Bahkan ketika be...

Hujan Abadi

Hujan! Aku benci hujan! Teramat benci. Saat arakan awan hitam perlahan datang, hatiku mulai menyumpah. Serapah tak pantas kukeluarkan meski hanya dalam hati. Dan tak berselang lama, langit menumpahkan semuanya ke bumi. Aku? Semakin menyumpah. Saat ini, aku tengah terjebak hujan. Membuat perjalananku terhambat. Aku tertahan di sebuah emperan toko. "Kenapa kau begitu benci dengan hujan?" kudengar seseorang berkata. Aku menoleh, kau bertanya padaku , batinku. Dia mengangguk. "Ya, aku bertanya padamu. Dari tadi kudengar kau menggerutu. Kau tahu? Itu sangat mengangguku," ujar laki-laki berwajah tirus itu. Aku jadi heran, bagaimana dia bisa mendengar apa yang kuucapkan dalam hati. Aku menghela napas, "orang lain tidak ada yang terganggu, kau saja yang berlebihan. Lagi pula aku mengucapkannya dalam hati. Salah siapa mencuri dengar kata hati orang lain." Aku berucap dengan ketus. Kulihat orang itu memcoba bersabar. "Suatu saat kau akan membutuhkanku! Ing...

Ibu

Apa jadinya saat engkau terbangun dan sudah tidak mendapati wajah ibumu? Sedih luar biasa tentunya. Ibu wanita nomor wahid dalam hidupku. Dialah yang melahirkanku, membesarkanku, dan mendampingiku selama ini. Hingga saat ini, aku harus berpisah dengannya. Karena aku harus belajar di pulau sebrang. Berat rasanya, namun apa daya, tak selamanya aku  berada di pangkuan ibu. Ibu, darinya kupinta banyak hal. Doa dan pengorbanannya. Ya, aku terlalu banyak meminta padanya. Air matanya, oh Tuhan aku tak sanggup melihatnya. Apa yang sudah kuberikan untuknya? Ibu, bila tiba masanya nanti. Aku ingin membawamu terbang. Kan kuajak kemanapun aku pergi. Kan kulukis senyum abadi di wajahmu. Ibu, maafkan atas segala salahku. Izinkan aku kembali kepangkuanmu dengan kesuksesan.