Skip to main content

[Cernak] Kemana Perginya Nyamuk Saat Hujan?



“Yah, kemana perginya nyamuk saat hujan?” tanya Alya kepada ayahnya
Ayahnya mengerutkan kening. Kenapa putrinya yang baru berusia lima tahun itu menanyakan hal tersebut.
“Kenapa tiba-tiba bertanya begitu, Nak?” tanya ayah.
Alya adalah seorang anak berusia lima tahun. Ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ia sering bertanya banyak hal kepada ayahnya. Ayahnya dengam sabar selalu menjawab pertanyaan Alya. Dan Alya akan merasa senang ketika ia mendapatkan jawaban dari ayahnya.
 Alya tinggal di desa. Di daerah tempat tinggalnya masih banyak terdapat kebun-kebun. Bahkan di belakang rumah Alya pun terdapat sebuah kebun. Ada beberapa pohon tumbuh di kebun itu. Ada pohon pisang, jambu, dan sawo. Ayah membuatkan sebuah ayunan untuk Alya di pohon sawo. Alya senang bermain di ayunan tersebut.
Karena sudah beberapa hari bermain di ayunan, Alya mulai bosan. Sehingga Alya memilih bermain di rumah. Ayunannya pun terlupakan. Selain karena bosan, Alya juga tidak suka diganggu dengan nyamuk-nyamuk saat bermain ayunan. Ia menjadi jengkel sendiri karena nyamuk-nyamuk tersebut. Pernah ia mengadu kepada ayahnya tapi ayahnya hanya berkata, “Kalau bermain di ayunan pakai baju dan celana panjang, Al. Biar nggak digigit nyamuk. Sambil bawa ini.” Ayah memberikan raket nyamuk. Raket yang memiliki aliran listrik untuk membunuh nyamuk. Jika sudah begitu Alya hanya bersungut-sungut sebal. Ia malas pakai baju panjang. Apalagi membawa-bawa raket itu saat bermain ayunan.
Suatu hari, turun hujan. Tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, Alya hujan-hujanan. Bajunya basah kuyup. Namun ia tampak senang. Ia menari-nari. Ia juga bermain di ayunan belakang rumah.
Alya merasa aneh. Biasanya ia akan dikerubuti nyamuk jika bermain di ayunan. Namun kini taka da seekor nyamuk pun di sana.
“Kemana perginya nyamuk saat hujan, ya,” gumamnya sambil memainkan rambut. “Ah, nanti akan kutanyakan kepada ayah,” lanjut Alya.
Setelah merasa puas, Alya masuk ke rumah. Tak lupa ia mandi kemudian berganti dengan pakaian yang kering. Ia buru-buru masuk kamar agar orang tuanya tidak tahu kalau dia hujan-hujanan.
Itulah asal muasal pertanyaan Alya kepada ayahnya.
“Yah, kemana perginya nyamuk saat turun hujan?” tanya Alya.
“Hmm, berteduh, Nak. Agar mereka tidak kehujanan,” jawab ayah.
“Tapi berteduh dimana yah?” tanya Alya lagi.
“Ya bisa dimana saja, di balik daun-daunan. Di balik gantungan baju. Di kolong tempat tidur dan tempat-tempat lainnya yang disukai nyamuk.” Alya mengangguk-angguk mendengar penjelasan ayahnya.
“Waduh, yah. Alya jadi ingat baju-baju di kamar yang digantung sembarangan!” seru Alya tiba-tiba.
Ayah tertawa melihat tingkah anaknya.
“Yasudah dibereskan dulu ya!” perintah ayahnya.
“Baik, yah. Terima kasih atas jawaban dari pertanyaan Alya,” katanya kepada ayah. Ia mencium pipi ayahnya dan segera berlari ke kamar. Ia tidak mau baju-bajunya menjadi tempat persembunyian nyamuk. Apa lagi nyamuk aedes aegypti. Bisa-bisa nyamuk itu menggigitnya dan menyebabkan penyakit demam berdarah. Hii, ngeri!

#cernak
#ceritaanak

Nb : copas?  Cantumkan sumber!!  Hargai karya orang lain!  😊😊

Comments

Popular posts from this blog

Tuladha Serat Pribadi | CONTOH SURAT PRIBADI BAHASA JAWA

Sumber gambar :  Pinterest Berikut ini adalah contoh surat pribadi dalam bahasa Jawa. tentu saja tulisan ini belum sempurna, saya tunggu kritik dan sarannya.  Kulon Progo, 04 Mei 2015 Bapak saha Ibu Wonteng ing Solo             Sembah sungkem pangabekti,             Lumantar serat punika, kula ngaturi uninga bilih kawontenan kula ing mriki tansah ginanjar wilujeng nir ing sambikala. Menggah panyuwunan kula dhumateng Gusti Allah SWT, mugi-mugi kawontenanipun Bapak saha Ibu ugi mekaten. Amin             Bapak saha Ibu ingkang kula bekteni, lumantar serat punika kula badhe caos kabar bilih kala wingi kula Juara II Lomba Cerkak se-Kabupaten Kulon Progo. Saha Insya Allah kula badhe wangsul dateng Solo benjang wulan Desember. Nyuwun pangestunipun mugi-mugi sedaya dipun paringi kalancaran.   ...

Hujan Abadi

Hujan! Aku benci hujan! Teramat benci. Saat arakan awan hitam perlahan datang, hatiku mulai menyumpah. Serapah tak pantas kukeluarkan meski hanya dalam hati. Dan tak berselang lama, langit menumpahkan semuanya ke bumi. Aku? Semakin menyumpah. Saat ini, aku tengah terjebak hujan. Membuat perjalananku terhambat. Aku tertahan di sebuah emperan toko. "Kenapa kau begitu benci dengan hujan?" kudengar seseorang berkata. Aku menoleh, kau bertanya padaku , batinku. Dia mengangguk. "Ya, aku bertanya padamu. Dari tadi kudengar kau menggerutu. Kau tahu? Itu sangat mengangguku," ujar laki-laki berwajah tirus itu. Aku jadi heran, bagaimana dia bisa mendengar apa yang kuucapkan dalam hati. Aku menghela napas, "orang lain tidak ada yang terganggu, kau saja yang berlebihan. Lagi pula aku mengucapkannya dalam hati. Salah siapa mencuri dengar kata hati orang lain." Aku berucap dengan ketus. Kulihat orang itu memcoba bersabar. "Suatu saat kau akan membutuhkanku! Ing...

Belajar Cepat dan Menyenangkan

Kegiatan belajar sering dianggap membosankan bagi sebagian orang. Lalu, bagaimana caranya agar belajar menjadi menyenangkan dan mudah untuk menyerap materi yang dipelajari? Asalkan kita tahu caranya, pasti belajar menjadi mudah dan menyenangkan. Mari kita pelajari caranya! Rapikan Penampilan. Kerapian penampilan dan tempat belajar sangatlah penting. Karena penampilan dan tempat yang rapi akan membuat belajar terasa nyaman. Bayangkan saja kalau kita harus belajar di tempat yang berantakan. Pasti otak jadi ikut berantakan dan membuat kita cepat merasa bosan. Salah seorang Bapak Proklamator kita, Mohammad Hatta selalu berpenampilan rapi ketika sedang membaca buku. Bahkan beliau selalu mengenakan sepatu, jas dan lengkap dengan dasinya. Beliau berkata, “Membaca buku sama halnya dengan berhadapan langsung dengan sang profesor.” Nah, bagamana? Tentu lebih asyikkan kalau belajar dengan penampilan yang rapi. Musik. Musik sangat membantu dalam belajar. Mengapa demikian? karena musik...