Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2017

Balada Senja di Kota Minyak (Sebuah Cerpen)

Untuk seseorang yang padanya aku diperkenankan mengenal, Setiap senja yang menjadikanmu lamunan, suaramu yang sayup-sayup mengumandangkan panggilan suci bagi orang-orang yang seiman, bagiku itulah saat paling membahagiakan untuk menutup hari. Aku menikmati alunan merdu kalimat ajakan yang mengalir lembut ke dalam kalbu. Hingga usai kalimat-kalimat itu lantas kuangkat kedua tanganku dan berbisik: Ya Allah, Tuhan pemilik panggilan yang sempurna ini dan salat yang akan didirikan Karuniakanlah kepada Nabi Muhammad SAW al-wasilah dan karunia-karunia yang banyak Dan karuniakanlah kedudukan yang tinggi sebagaimana telah Engkau janjikan Sesungguhnya Engkau tak akan menyalahi janji Bergegas kuambil air untuk mensucikan diri agar pantas untuk menghadap kepada Sang Pencipta. Tiga rakaat kutunaikan, terpekur dalam sujud-sujud panjang tempatku mengadukan segala rasa. Saat terdekat antara seorang hamba dengan penciptanya. Lantas kulanjutkan dengan untaian doa yang kuharap be...

Jangan menilai sebuah buku hanya dari sampulnya

Sebuah proses yang menurutku panjang karena nasehat ini sudah kudapatkan beberapa waktu yang lalu. Hanya saja, ternyata memerlukan waktu yang lama untuk memahami. Nasehat tentang, jangan pernah menilai sebuah buku hanya dari sampulnya. Nasehat yang entah siapa pencetus pertamanya. Dari sebuah buku yang memang harus kunilai saat aku tuntas membacanya, bukan ketika hanya melihat sampulnya. Pun juga jangan hanya menilai sebuah buku dari apa yang orang lain katakan. Setiap orang mempunyai hak untuk menyuarakan pikiran dan isi hatinya. Boleh jadi orang lain menyukainya, tapi aku tidak. Begitu sebaliknya, bisa jadi aku menyukainya, belum tentu orang lain juga. Sama kasusnya ketika menilai orang lain, meskipun terkadang kesan pertama menimbulkan penilaian tertentu. Jangan langsung menghakimi dengan menjatuhkan nilai. Kenapa? Karena aku tidak tahu berapa panjang perjalanan yang sudah dilaluinya. Karena aku tidak mengerti seberapa banyak hal-hal hebat yang telah dilaluinya. Pada akhirnya ...

Soal Latihan PPh Pemotongan Pemungutan

Soal I 1. B – S Badan usaha yang memproduksi emas batangan dikenai PPh Pasal 22 atas pembelian emas dari dalam negeri. 2. B – S Pembebasan dari pemungutan PPh Pasal 22 atas barang mewah dilakukan apabila PPh yang telah dibayar lebih besar dari PPh yang terutang tanpa melalui SKB PPh. 3. B – S Saat terutangnya PPh Pasal 23 adalah saat dibayarkan penghasilan, disediakan untuk dibayarkan penghasilan, atau jatuh temponya pembayaran penghasilan yang bersangkutan, tergantung peristiwa. 4. B – S Tarif PPh Pasal 23 adalah 15 % dari jumlah bruto atas deviden, bunga, royalti, serta hadiah dan penghargaan sehubungan dengan kegiatan. Dalam hal tidak memiliki NPWP dikenai tarif 20% lebih tinggi. 5. B – S Hadiah undian yang diterima oleh WPLN dikenai PPh Pasal 4 ayat (2) dengan tarif 25% dari jumlah bruto. 6. B – S Tarif pajak 20% dari jumlah bruto tidak dikenakan terh...

Sepenggal Kisah di Tanah Rantau

Kampung Warna Warni, Teluk Seribu, Manggar Baru, Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, 76117 Sebuah kampung yang terletak di tepian Teluk Seribu. Kala itu, di penghujung bulan Juni. Di sela-sela libur lebaran, aku memilih menjadi anak rantau yangn tetap berada di perantauan, meskipun sebagian besar teman pulang ke kampung halaman masing-masing. Aku dan beberapa teman yang juga tidak pulang, memutuskan untuk mengunjungi kampung itu. Dengan bermodalkan tiket seharga tiga ribu rupiah, kami menyusuri kampung penuh warna tersebut.  Tak banyak yang kami lakukan di sana, hanya foto-foto. Karena di sana terdapat dinding penuh lukisan yang bisa digunakan untuk berfoto ria.  Perjalanan ini memberikan sedikit banyak pelajaran bagiku. Ketika berada jauh dari keluarga, teman-temanlah yang menjadi keluargamu. Saling menjaga, mengigatkan, dan mengukir cerita. Dan inilah Indonesia, negeri penuh pesona yang menyimpan banyak tempat indah untuk disinggahi.  Pada a...

Sepotong Integritas untuk Ibu Pertiwi

Oleh : Sepotong Pelangi Ibu, bertambah haru wajahmu Setelah diriku menyusuri potret biru sebuah perjalanan Di mana sepanjang jalan kutemui kerusakan Puing-puing bangunan yang berserakan Bau kebohongan menguar menusuk tajam penciuman Belum setitik pun kebahagian kutemukan Hanya tangismu yang sayup-sayup menelisik pendengaran Mengiris, merobek, dan mengoyak kesadaran Ibu, kini tubuhmu ringkih penuh lara Meleleh air matamu karena duka Terengah-engah melawan cela   Di saat asa nyaris benar-benar tak tersisa Aku menemukan sepotong integritas untukmu, Ibu Yang digenggam erat tangan-tangan pemberani Yang melekat kuat di jiwa-jiwa yang peduli Yang mendarah daging di tubuh penggawa suci Yang siap membela kebenaran dan keadilan hakiki Ibu, mungkin saat ini aku bukan bagian dari para kesatria Namun aku berusaha berdiri persis di belakang mereka Menopang sekuat tenaga Demi kembalinya tawamu Demi menyingkap kabut-kabu...