Jangan Menunggu Kesempatan, Ciptakan Alasan Mengapa Kamu Dibutuhkan
Saat pertama kali bekerja, Jang Ho-woo tidak langsung diterima oleh timnya. Orang-orang tampak memandangnya sebelah mata karena ia hanya lulusan SMA. Ketika ia meminta pekerjaan kepada seniornya, ia tetap tidak diberi tugas apa pun.
Kemudian ia berbicara dengan Han Seung-jo. Ada satu kalimat yang menarik perhatianku.
"Kamu pasti tidak dibutuhkan karena suatu alasan. Coba pikirkan, kenapa?"
Kalimat itu terdengar dingin, tetapi justru realistis.
Han Seung-jo juga mengatakan bahwa pegawai baru memang harus belajar, tetapi kantor bukanlah sekolah. Senior tidak memiliki kewajiban untuk mengajar pegawai baru. Bahkan jika mereka mengajari kita, sering kali hal itu bukan semata-mata demi kebaikan kita, melainkan karena ada manfaat atau keuntungan yang mereka peroleh.
Awalnya aku merasa kalimat itu terlalu kejam. Namun, setelah dipikir-pikir, dunia kerja memang banyak dipengaruhi oleh pertimbangan risiko dan manfaat.
Dalam kasus Ho-woo, perusahaan sedang mempertimbangkan apakah ia layak dimasukkan ke dalam tim. Mereka tentu tidak ingin salah memilih anggota. Ho-woo dipandang berisiko karena tidak memiliki latar belakang pendidikan yang umum di bidang tersebut. Kemampuannya belum diketahui dan kemampuan kerja samanya juga belum terbukti karena ia masih pegawai baru.
Dari sudut pandang perusahaan, keraguan itu sebenarnya masuk akal.
Lalu apa yang dilakukan Ho-woo?
Keesokan harinya, ia berkata:
"Aku tidak terjebak. Aku hanya diam."
Setelah itu, ia mulai bergerak.
Ia mengisi kertas pada mesin fotokopi, membersihkan ruangan, merapikan dokumen, menghancurkan kertas yang tidak diperlukan, dan membuangnya. Pekerjaan-pekerjaan itu mungkin terlihat sepele, tetapi karena ia mulai bergerak, orang-orang di sekitarnya mulai memperhatikannya.
Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai meminta bantuannya.
Aku belajar sesuatu dari sini. Terkadang, masalahnya bukan karena kita tidak memiliki kesempatan. Bisa jadi kita terlalu lama diam dan menunggu orang lain menyadari keberadaan kita. Padahal, nilai diri sering kali baru terlihat ketika kita mulai bergerak dan memberikan manfaat.
Ada satu adegan lain yang juga menarik.
Ho-woo dengan berani mengambil tugas untuk mendapatkan surat persetujuan dari bank. Padahal, orang lain sudah menyerah terlebih dahulu. Namun, ia berkata:
"Saya akan mendapatkannya."
Ketika tiba di bank, ia ditolak oleh teller dan diminta mengambil nomor antrean. Setelah melihat antrean yang sangat panjang, ia sadar kemungkinan besar ia tidak akan mendapatkan surat persetujuan tersebut hari itu.
Namun, ia tidak berhenti di situ.
Ia mulai mencari solusi. Ia membantu para nasabah yang sudah lanjut usia mengisi formulir dan membantu menyelesaikan kesulitan mereka. Karena itulah, ia akhirnya memperoleh kesempatan untuk bertemu teller meskipun waktu operasional bank hampir berakhir.
Ketika nomor antreannya dipanggil, Ho-woo datang ke meja teller. Namun, teller mengatakan bahwa prosesnya kemungkinan akan memakan waktu, sementara jam operasional bank hampir berakhir.
Di situ, Ho-woo tidak panik. Ia kemudian menyodorkan lembar persetujuan yang ternyata sudah ia siapkan sebelumnya. Dengan begitu, teller tidak perlu membuat dokumen dari awal dan hanya perlu memeriksa apakah formatnya sudah benar.
Dengan percaya diri, Ho-woo mengatakan bahwa jika formatnya ternyata salah, ia akan kembali lagi keesokan harinya. Namun, jika formatnya benar, ia berharap teller dapat langsung memberikan persetujuan.
Dan akhirnya, persetujuan itu berhasil ia dapatkan.
Setelah itu, Ho-woo mengatakan:
"Mari kita saling mempermudah. Jika seseorang menyelesaikan masalahku, aku juga harus menyelesaikan masalahnya. Itulah dasar perdagangan."
Kalimat ini membuatku berpikir bahwa orang yang bernilai bukanlah orang yang sekadar mengeluh tentang masalah, melainkan orang yang datang dengan solusi dan persiapan.
Ho-woo tidak hanya berani mengambil tugas yang sulit. Ia juga memikirkan strategi, menyiapkan dokumen sebelumnya, dan mencari cara agar semua pihak memperoleh kemudahan.
Kesimpulan
Dari episode awal Numbers, aku belajar tiga hal.
Pertama, dunia tidak selalu menilai kita berdasarkan niat atau potensi, tetapi berdasarkan nilai yang bisa kita berikan.
Kedua, ketika belum dianggap penting atau belum diberi kesempatan, jangan hanya diam menunggu. Mulailah bergerak dan jadilah berguna, meskipun dari hal-hal kecil.
Ketiga, orang yang paling dibutuhkan sering kali bukan orang yang paling pintar atau paling bergelar, melainkan orang yang mampu melihat masalah dan datang dengan solusi.
Mungkin, cara terbaik agar orang lain mengakui nilai diri kita bukanlah dengan meminta diakui, melainkan dengan terus bergerak, membantu, dan menunjukkan bahwa kehadiran kita membawa manfaat. Sebab, di dunia ini, orang tidak selalu mengingat siapa yang paling berbakat, tetapi mereka akan mengingat siapa yang membuat pekerjaan dan hidup mereka menjadi lebih mudah.

Comments
Post a Comment