Ternyata Selama Ini Aku Belajar dengan Cara yang Salah


 

Awalnya aku sering bertanya-tanya, sebenarnya apa yang salah dengan caraku belajar?

Setiap kali mempelajari sesuatu, rasanya aku paham. Aku tahu maksud bacaan itu, mengerti isi materi yang sedang dipelajari, bahkan merasa, "Oh, aku sudah mengerti."

Namun, anehnya, ketika teman bertanya, aku kesulitan menjelaskannya dengan kata-kataku sendiri. Saat dosen melempar pertanyaan di kelas, aku tidak bisa menjawab dengan yakin. Bahkan ketika ujian tiba, meskipun rasanya sudah belajar dan memahami materinya, aku tetap kesulitan mengerjakan soal.

Pengalaman itu membuatku bingung. Kalau memang sudah mengerti, mengapa aku tidak bisa menjelaskan dan menggunakannya ketika dibutuhkan?

Sampai suatu hari, aku menemukan sebuah video di YouTube yang membahas tentang cara belajar yang efektif. Dari video tersebut, aku mengetahui bahwa materi yang dibahas berasal dari sebuah buku berjudul Make It Stick. Karena penasaran, aku pun mencoba membaca buku itu.

Dari buku tersebut, aku menemukan beberapa hal yang cukup mengubah cara pandangku tentang belajar.

Salah satu konsep yang paling menarik bagiku adalah ilusi kompetensi. Kondisi ini terjadi ketika kita merasa sudah memahami suatu materi, padahal sebenarnya kita hanya merasa familiar dengannya.

Misalnya, kita membaca sebuah bab berulang kali. Karena sudah sering melihat istilah dan kalimat di dalamnya, materi itu terasa tidak asing lagi. Akibatnya, muncul perasaan, "Aku sudah paham."

Padahal, rasa familiar tidak selalu sama dengan pemahaman.

Ujiannya sederhana: cobalah tutup buku, lalu jelaskan kembali materi tersebut dengan kata-kata sendiri. Jika masih kesulitan menjelaskan, bisa jadi yang kita miliki bukanlah pemahaman, melainkan ilusi bahwa kita sudah menguasai materi.

Saat membaca bagian ini, aku seperti menemukan jawaban atas kebingunganku selama ini. Mungkin aku bukan tidak belajar. Mungkin selama ini aku hanya terjebak pada perasaan bahwa aku sudah mengerti.

Lalu, jika rasa familiar bisa menipu, sebenarnya bagaimana cara belajar yang benar dan efektif?

1. Spaced Repetition: Jangan Belajar Sekali Lalu Selesai

Selama ini, banyak dari kita belajar dengan sistem kebut semalam (SKS). Materi dipelajari berjam-jam sebelum ujian, lalu setelah ujian selesai, semuanya perlahan menghilang.

Buku Make It Stick menjelaskan bahwa cara ini kurang efektif untuk pembelajaran jangka panjang.

Solusinya adalah spaced repetition, yaitu mempelajari materi yang sama secara berulang, tetapi pada waktu yang berbeda. Misalnya, mempelajari materi hari ini, mengulangnya lagi beberapa hari kemudian, lalu mengulanginya kembali pada minggu berikutnya.

Mengapa cara ini lebih efektif?

Karena setiap kali mengulang materi setelah ada jeda waktu, otak harus mengeluarkan usaha ekstra untuk mengingat kembali informasi tersebut. Usaha inilah yang membantu membentuk dan memperkuat memori jangka panjang.

Ternyata, sedikit lupa bukanlah musuh dalam belajar. Justru proses mengingat kembali setelah mulai lupa itulah yang memperkuat ingatan.

2. Retrieval Practice: Jangan Hanya Membaca Berulang Kali

Membaca buku berulang kali mungkin merupakan salah satu cara belajar yang paling sering dilakukan. Aku juga sering melakukannya.

Masalahnya, membaca ulang termasuk aktivitas yang relatif pasif. Yang bekerja terutama adalah mata yang bergerak mengikuti tulisan, sementara otak tidak banyak dipaksa untuk mengambil kembali informasi dari memori.

Semakin sering membaca ulang, kita justru bisa merasa sangat produktif. Padahal, yang terjadi sering kali hanyalah rasa familiar terhadap materi. Inilah yang menciptakan ilusi kompetensi.

Akibatnya, ketika ujian tiba, kita merasa blank dan tidak tahu harus menjawab apa.

Solusi yang ditawarkan buku ini adalah retrieval practice, yaitu melatih diri mengambil informasi dari ingatan tanpa bantuan.

Caranya sederhana. Bacalah suatu materi hingga selesai, kemudian tutup bukunya dan coba tuliskan kembali apa yang masih diingat sebisanya. Jika benar-benar mentok, barulah buka kembali buku tersebut.

Semakin otak dipaksa mengingat suatu informasi, semakin kuat pula jejak memori tersebut.

Aku menyukai analogi ini. Ingatan ibarat jalan setapak di dalam hutan. Jika tidak pernah dilewati, jalan itu akan ditumbuhi semak-semak hingga sulit dilalui. Retrieval practice seperti terus berjalan melewati jalur tersebut agar tetap terbuka dan mudah diakses.

3. Interleaving: Campurkan Materi Belajarmu

Biasanya, kita belajar satu bab sampai selesai, lalu berpindah ke bab berikutnya.

Masalahnya, cara ini dapat membuat pemahaman kita terkotak-kotak. Ketika menghadapi soal yang mencampurkan berbagai konsep, kita menjadi bingung menentukan konsep mana yang harus digunakan.

Karena itulah, buku ini menyarankan interleaving, yaitu mencampurkan beberapa materi dalam satu sesi belajar.

Awalnya cara ini terasa lebih sulit dan sedikit membingungkan. Namun, justru karena otak dipaksa berpindah dan memilih strategi yang tepat, kita menjadi lebih siap menghadapi situasi nyata, di mana masalah tidak datang dalam bentuk yang rapi dan terpisah per bab.

4. Generation: Berani Menebak Sebelum Mengetahui Jawabannya

Cara belajar lainnya adalah generation, yaitu mencoba menghasilkan jawaban sebelum mengetahui jawaban yang benar.

Misalnya, sebelum membaca materi atau melihat pembahasan, cobalah mengerjakan soal terlebih dahulu. Tebaklah jawabannya.

Tidak masalah jika jawabannya salah.

Pada tahap ini, otak dipaksa berpikir dan berusaha mencari kemungkinan jawaban. Ketika kemudian mempelajari materi yang sebenarnya, perhatian kita menjadi lebih fokus.

Jika ternyata tebakan kita salah, otak akan lebih sadar terhadap informasi baru dan mulai membentuk koneksi-koneksi baru.

Ternyata, kesalahan bukan selalu tanda kegagalan dalam belajar. Dalam kondisi tertentu, kesalahan justru dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sesuatu dengan lebih mendalam.

Metode ini menurutku sangat cocok digunakan saat belajar bahasa, karena kita didorong untuk mencoba terlebih dahulu, lalu memperbaiki pemahaman setelah mengetahui jawaban yang benar.

Penutup

Setelah membaca Make It Stick, aku mulai menyadari bahwa selama ini masalahku mungkin bukan karena kurang pintar atau kurang belajar. Bisa jadi aku hanya menggunakan strategi belajar yang kurang tepat.

Aku sering mengira bahwa rasa familiar berarti sudah paham. Aku merasa produktif karena membaca berulang kali, padahal otakku belum benar-benar bekerja untuk mengingat dan menggunakan informasi tersebut.

Buku ini mengingatkanku bahwa belajar yang efektif ternyata tidak selalu terasa mudah. Terkadang, belajar justru terasa lebih sulit karena otak dipaksa mengingat kembali, mencampurkan berbagai konsep, dan bahkan membuat kesalahan terlebih dahulu.

Namun, mungkin justru di situlah proses belajar yang sesungguhnya terjadi. Bukan ketika kita berkata, "Aku sudah pernah membaca ini," tetapi ketika kita mampu menjelaskan, mengingat, dan menggunakan pengetahuan tersebut saat benar-benar dibutuhkan.

Jadi, kalau setelah belajar kita masih merasa kesulitan dan otak terasa bekerja lebih keras, mungkin itu bukan tanda bahwa kita bodoh. Bisa jadi, untuk pertama kalinya, kita benar-benar sedang belajar.



Video yang aku tonton : Cara Belajar APAPUN 10X Lebih Efektif

Comments

Popular Posts