Perlakukan Dirimu dengan Baik, Maka Dunia Akan Mengikutimu
Belakangan ini aku baru mengenal istilah self-sabotage atau sabotase diri. Sederhananya, self-sabotage adalah perilaku yang tanpa sadar membuat kita gagal mencapai tujuan atau cita-cita yang sebenarnya kita inginkan.
Yang menarik, ternyata pelakunya bukan orang lain. Justru sering kali, pelakunya adalah diri kita sendiri. Beberapa tanda self-sabotage yang pernah dijelaskan dan cukup membuatku merenung adalah sebagai berikut.
1. Sering lupa pada hal yang penting
Sekarang sudah banyak alat yang dapat membantu kita mengingat sesuatu, mulai dari alarm, kalender digital, hingga aplikasi pengingat. Karena itu, ketika kita terus-menerus lupa terhadap hal yang penting, bisa jadi masalahnya bukan pada ingatan, tetapi pada niat dan prioritas kita.
Mungkin, jauh di dalam diri, hal tersebut belum benar-benar kita anggap penting. Akibatnya, diri kita sendiri secara tidak sadar "menyabotase" upaya untuk mewujudkannya.
2. Sering terlambat dan menunda-nunda
Banyak hal besar dalam hidup yang akhirnya terlambat diselesaikan karena kebiasaan menunda. Tugas yang sebenarnya bisa dikerjakan hari ini, ditunda hingga besok, lalu besoknya ditunda lagi.
Contoh yang paling dekat denganku adalah ketika lebih memilih scroll TikTok daripada mengerjakan tugas kuliah. Rasanya hanya sebentar, tetapi tanpa sadar waktu habis begitu saja dan pada akhirnya tugas terlambat dikumpulkan.
Terkadang, sabotase diri tidak datang dalam bentuk kegagalan besar. Ia hadir dalam pilihan-pilihan kecil yang terus diulang setiap hari.
3. Bisa memulai sesuatu dengan baik, tetapi tidak menyelesaikannya
Ada kalanya kita sudah duduk di depan laptop, mulai menulis, bahkan berhasil membuat satu atau dua paragraf. Namun, setelah itu kita berhenti. Alasannya terdengar masuk akal: ingin mencari data tambahan, ingin mencari referensi lain, atau merasa belum cukup siap. Di sisi lain, sering kali muncul keraguan dalam diri: "Aku bisa tidak, ya, menyelesaikan ini?"
Tanpa disadari, keraguan tersebut menjadi bentuk kesadaran diri yang negatif dan perlahan menghambat kita untuk melanjutkan pekerjaan.
4. Berhenti tanpa alasan yang jelas
Pernahkah sedang mengerjakan sesuatu, lalu tiba-tiba berhenti begitu saja? Tidak ada gangguan, tidak ada alasan yang benar-benar kuat, tetapi tiba-tiba kehilangan dorongan untuk melanjutkan.
Lalu kita berkata, "Nanti saja kalau mood sudah datang."
Masalahnya, mood sering kali tidak kunjung datang. Akhirnya, pekerjaan tetap tidak selesai dan kita kembali merasa bersalah pada diri sendiri.
Dampak Self-Sabotage
Ternyata dampak self-sabotage cukup panjang. Semua sering dimulai dari pikiran yang negatif. Pikiran yang negatif kemudian memengaruhi cara kita menjalani hidup. Gaya hidup menjadi kurang sehat, kebiasaan sehari-hari tidak mendukung tujuan yang ingin dicapai, dan pada akhirnya banyak target yang tidak tercapai.
Ketika target demi target tidak tercapai, kita mulai merasa jatuh. Kita merasa diri kecil dan tidak berharga. Perasaan itu kemudian berkembang menjadi rasa malu, bad mood, bahkan kemarahan pada diri sendiri.
Pada titik ini, self-esteem menurun dan rasa percaya diri ikut merosot. Jika dibiarkan terus-menerus, seseorang bisa menjadi frustrasi dan bahkan mulai merusak dirinya sendiri.
Setelah memahami rantai akibatnya, aku jadi berpikir, wah, ternyata efek self-sabotage panjang juga ya. Jangan sampai terus-menerus terjebak di dalamnya.
Bagaimana Menyelamatkan Diri dari Self-Sabotage?
Menurut penjelasan yang aku dengar, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.
Pertama, kenali perilaku yang sering muncul saat melakukan self-sabotage.
Setiap orang memiliki pola yang berbeda. Ada yang sering menunda, ada yang mudah menyerah, ada yang terlalu banyak berpikir hingga tidak kunjung bertindak.
Kedua, kenali emosi yang mendorong perilaku tersebut.
Apakah karena takut gagal? Takut dinilai orang lain? Merasa lelah? Atau justru merasa tidak cukup mampu?
Ketiga, periksa pikiran atau prinsip yang melahirkan emosi tersebut.
Pada akhirnya, cara berpikir menentukan emosi, dan emosi menentukan perilaku. Jika pikiran yang mendasarinya keliru, perilaku yang muncul pun sering kali ikut menjauhkan kita dari tujuan yang sebenarnya kita inginkan.
Mungkin memperlakukan diri dengan baik bukan hanya tentang memberi hadiah pada diri sendiri atau beristirahat ketika lelah. Memperlakukan diri dengan baik juga berarti berhenti menjadi penghalang bagi diri sendiri.
Ketika kita mulai mengenali pola self-sabotage dan berusaha memperbaikinya sedikit demi sedikit, sesungguhnya kita sedang belajar menjadi teman yang baik bagi diri sendiri. Dan mungkin, dari situlah perubahan-perubahan baik dalam hidup mulai mengikuti.
Sumber inspirasi: Kajian Dr. Fahruddin Faiz di YouTube

Comments
Post a Comment