Kalau Saja Aku Membeli Emas Sejak SD
Kadang aku suka bercanda sendiri, "Coba dulu aku beli emas sejak SD, mungkin sekarang sudah untung banyak."
Tentu saja itu hanya gurauan. Mana mungkin anak SD berpikir tentang investasi? Tapi pikiran itu muncul karena aku memang punya kenangan kecil tentang emas.
Waktu SD, mungkin kelas 1, 2, atau 3, aku punya sebuah cincin emas kecil. Beratnya sekitar setengah gram, harganya kurang lebih Rp75.000. Saat itu aku tidak pernah menganggapnya sebagai investasi. Bagiku, itu hanya sebuah cincin.
Beberapa tahun kemudian, waktu SMP, teman-temanku satu per satu sudah punya HP. Aku ingin ikut punya juga, entah supaya tidak ketinggalan atau sekadar ingin dianggap "punya juga". Akhirnya aku merelakan cincin itu dijual, dan uangnya kupakai untuk membeli HP seharga sekitar Rp200.000. Aku bahkan sudah lupa berapa harga jual cincin itu waktu itu. Yang aku ingat hanya: cincin kecil itu berubah jadi HP, dan aku merasa itu keputusan yang wajar-wajar saja.
Setelah itu, aku tidak terlalu memikirkan emas lagi.
Ketika mulai bekerja sekitar 2018–2019, aku sempat beli emas Antam yang saat itu masih di kisaran Rp600.000-an per gram. Tapi setelah itu aku tidak lagi mengikuti perkembangan harganya. Aku tidak menambah, tidak memantau, hampir lupa kalau aku pernah punya emas. Sampai suatu hari aku sadar harga emas sedang ramai dibicarakan, dan ternyata sudah booming jauh melampaui yang kubayangkan. Tau-tau, di tahun 2026, harga emas Antam sempat menembus Rp3 juta per gram.
Setiap kali melihat berita kenaikan harga emas, pikiranku kadang kembali ke cincin kecil yang pernah kumiliki saat SD. Muncul lagi pikiran yang sama, "Kenapa dulu tidak beli emas lebih banyak, ya? Kenapa juga waktu sudah kerja malah tidak kupantau?"
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, rasanya tidak adil menilai keputusan masa lalu dengan pengetahuan yang baru kumiliki sekarang. Anak SD tentu tidak paham investasi. Anak SMP hanya berpikir bagaimana caranya tidak ketinggalan dari teman-teman. Dan orang yang baru mulai kerja pun wajar kalau belum cukup disiplin memantau sesuatu yang saat itu belum terasa penting.
Saat SD, cincin emas hanyalah sebuah cincin. Saat SMP, ia berubah menjadi sebuah HP. Dan saat mulai bekerja, ia sempat menjadi sekadar barang yang kubeli lalu kulupakan — sebelum akhirnya, bertahun-tahun kemudian, aku benar-benar melihatnya sebagai aset dan simbol bagaimana waktu bisa mengubah nilai suatu hal.
Jadi, daripada menyesali kenapa dulu tidak beli lebih banyak, atau kenapa dulu tidak rajin memantau, mungkin lebih baik aku bersyukur karena setidaknya sekarang aku sudah memahami nilainya. Sebab, lebih baik menyadarinya sekarang daripada tidak pernah menyadarinya sama sekali.


Comments
Post a Comment