Ketika Tubuh Berkata, "Pelan-Pelan Dulu"
Dua minggu terakhir ini, tubuhku seperti sedang mengajarkan sesuatu: tidak semua hal bisa dipaksakan.
Semua bermula seperti hari-hari biasa. Aku datang ke sebuah acara kampus dengan semangat seperti biasanya. Namun, di tengah acara, badanku mulai terasa hangat. Seluruh tubuh terasa ngilu dan tidak nyaman.
Aku langsung berpikir, "Sepertinya aku mulai sakit."
Sesampainya di rumah, aku minum paracetamol dan beristirahat. Syukurlah, keesokan harinya demamku langsung turun.
Sayangnya, cerita belum selesai.
Setelah demam mereda, muncul radang tenggorokan. Aku berusaha melakukan berbagai hal agar cepat pulih: makan buah, minum susu, minum larutan penyegar, dan mengonsumsi vitamin.
Sekitar seminggu kemudian, radangku mulai membaik. Aku merasa senang karena tenggorokanku sudah jauh lebih nyaman. Rasanya seperti sudah kembali sehat.
Karena merasa sudah enakan, tiba-tiba aku punya ide untuk membeli matcha.
Besoknya, aku mulai batuk.
Aku tidak tahu apakah itu hanya kebetulan atau memang ada kaitannya. Yang jelas, batuk itu datang ketika aku merasa sudah hampir sembuh.
Aku kemudian melanjutkan dengan minum obat batuk dan tetap mengonsumsi vitamin. Namun, karena batuk tak kunjung hilang, akhirnya aku memutuskan pergi ke klinik dan mendapatkan obat dari dokter. Lumayan, setelah itu kondisiku terasa lebih baik.
Sejujurnya, aku tidak suka batuk.
Saat berada di ruang kelas dan terpapar AC, batukku terasa sangat menyiksa. Tenggorokan terasa gatal dan seperti memaksa mengeluarkan sesuatu. Rasanya tidak nyaman dan melelahkan.
Namun, dari situ aku menyadari sesuatu yang menarik. Ketika menggunakan selimut, aku hampir tidak batuk. Karena itu, aku memutuskan memakai syal untuk menutupi punggung ketika berada di ruang kelas.
Mungkin terdengar sederhana, tetapi ketika sedang sakit, kita jadi lebih peka terhadap tubuh sendiri. Kita mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan.
Yang paling sulit dari sakit sebenarnya bukan hanya gejalanya.
Sakit membuat apa pun terasa tidak nyaman. Rasanya ingin beristirahat dan fokus pada pemulihan. Namun, di sisi lain, pikiranku tetap memikirkan berbagai hal, terutama tugas-tugas yang belum selesai.
Apalagi ada tugas yang menurutku tidak bisa ditunda karena memiliki tenggat waktu. Akhirnya, aku merasa seperti berada di antara dua keinginan: tubuhku ingin beristirahat, tetapi pikiranku ingin tetap produktif.
Kadang aku merasa tubuhku mulai membaik, lalu tiba-tiba kembali drop. Jujur, aku merasa sedih.
Namun, perlahan aku mulai memahami sesuatu.
Mungkin selama ini aku terlalu terbiasa bergerak dan menjalani rutinitas, sampai lupa bahwa tubuh juga memiliki batas. Ketika tubuh mulai memberi sinyal untuk beristirahat, aku masih ingin terus berjalan seperti biasa.
Padahal, tubuh seolah sedang berkata, "Pelan-pelan dulu."
Dua minggu sakit ini memang tidak menyenangkan. Namun, mungkin ada pelajaran yang sedang diajarkan kepadaku: bahwa beristirahat bukanlah bentuk kemalasan, dan berhenti sejenak bukan berarti tertinggal.
Ada kalanya tubuh meminta kita untuk memperlambat langkah, memulihkan diri, dan memberi ruang untuk sembuh. Sebab, mungkin satu-satunya cara untuk bisa melangkah lebih jauh adalah dengan mau berhenti sejenak dan mendengarkan tubuh yang berkata, "Pelan-pelan dulu."


Comments
Post a Comment