Mengapa Kita Sulit Ikhlas Melepaskan Uang?
Belakangan ini aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa ya kadang terasa sulit ikhlas ketika harus mengeluarkan uang?
Sebagai bagian dari generasi sandwich, aku sudah menerima kenyataan bahwa sebagian dari penghasilanku akan digunakan untuk membantu keluarga. Bahkan, ketika mulai merasa berat, aku sering mengingatkan diri sendiri, "Mungkin memang ada rezeki keluargamu yang Allah titipkan lewat kamu."
Kalimat itu cukup ampuh menenangkan hatiku. Aku bisa menerima bahwa berbagi adalah bagian dari tanggung jawab dan rasa syukur.
Namun, ada satu kondisi yang sering memicu emosiku.
Ketika seseorang berkata, "Minta uang, dong."
Entah mengapa, kalimat sederhana itu sering membuatku merasa kesal.
Di dalam hati, aku berpikir, "Loh, tanpa diminta pun aku pasti akan memberi."
Awalnya aku mengira aku marah karena uangku berkurang. Namun, setelah kupikir-pikir lagi, ternyata bukan itu penyebab utamanya.
Kalau hanya soal uang, bukankah aku memang sudah terbiasa menyisihkan sebagian penghasilanku?
Lalu kenapa rasanya berbeda ketika ada yang meminta?
Aku pun mencoba mencari jawabannya. Ternyata, psikologi memiliki penjelasan yang cukup menarik.
Salah satunya adalah teori Self-Determination Theory yang menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa memiliki kendali atas pilihan hidupnya. Dalam psikologi, kebutuhan ini disebut autonomy.
Mungkin terdengar sederhana, tetapi ternyata memberi karena memilih sendiri memberikan perasaan yang berbeda dibanding memberi karena merasa diminta.
Bayangkan dua situasi berikut.
Situasi pertama, aku memutuskan sendiri untuk mengirim uang kepada keluarga. Tidak ada yang meminta, tidak ada yang mengingatkan. Aku melakukannya karena memang ingin membantu.
Situasi kedua, seseorang datang dan berkata, "Minta uang, ya."
Jumlah uang yang keluar mungkin sama.
Namun, perasaan yang muncul bisa sangat berbeda.
Pada situasi pertama, aku merasa sedang memberi.
Pada situasi kedua, aku merasa sedang diminta.
Perbedaannya bukan pada nominal uangnya, melainkan pada siapa yang memegang kendali atas keputusan tersebut.
Ternyata, rasa memiliki pilihan sangat memengaruhi bagaimana kita merasakan sebuah tindakan.
Tidak hanya itu.
Dalam ekonomi perilaku, ada konsep yang disebut loss aversion, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih kuat merasakan kehilangan daripada menikmati keuntungan yang nilainya sama.
Sederhananya, kehilangan uang Rp100.000 sering kali terasa lebih menyakitkan daripada rasa senang ketika memperoleh Rp100.000.
Ada juga konsep endowment effect, yaitu kecenderungan manusia memberi nilai lebih tinggi pada sesuatu setelah merasa memilikinya.
Begitu uang masuk ke rekening, otak kita mulai menganggapnya sebagai "milikku". Ketika uang itu keluar, otak tidak sekadar melihatnya sebagai proses berbagi, tetapi juga sebagai kehilangan sesuatu yang sudah menjadi milik kita.
Mungkin itulah sebabnya mengeluarkan uang sering terasa berat, bahkan ketika uang tersebut digunakan untuk tujuan yang baik.
Namun, setelah memahami semua itu, aku justru belajar satu hal.
Merasa berat bukan berarti kita tidak ikhlas.
Merasa kesal bukan berarti kita tidak peduli.
Bisa jadi, kita hanya sedang mengalami kecenderungan psikologis yang memang dimiliki hampir setiap manusia.
Bagiku, keikhlasan bukanlah keadaan ketika hati tidak pernah merasa berat.
Keikhlasan justru hadir ketika, meskipun ada rasa berat, kita tetap memilih bertindak sesuai nilai yang kita yakini.
Mungkin karena itulah aku selalu mencoba mengingatkan diriku sendiri, "Ada rezeki keluargamu yang Allah titipkan lewat kamu."
Kalimat itu tidak menghilangkan rasa sayang terhadap uang yang telah susah payah dicari.
Namun, kalimat itu membantuku melihat uang dari sudut pandang yang berbeda.
Bahwa mungkin, tidak semua yang ada di tanganku benar-benar hanya untukku.
Dan mungkin, belajar ikhlas bukanlah menghilangkan rasa berat ketika memberi, melainkan belajar menerima bahwa rasa berat itu memang ada, lalu tetap memilih untuk berbagi.


Comments
Post a Comment